Tuesday, October 1, 2013

Filosofi Kehidupan

Hei kamu ! Ya kamu yang mengaku manusia. Siapakah kamu ?
Mengapa kamu bisa membaca ini ?Aku tau kamu hendak mengataiku bodoh, bukan ?Kau yang bodoh.Kau bukan manusia.

Kau hanyalah seonggok atom yang secara kebetulan terhubung dengan formasi yang kompleks. Mereka benda kecil yang kau sebut makhluk mati yang merupakan kehidupan. Kau hanya skenario belaka.

Kehidupan dan kematian hanya sebuah istilah trend yang dibuat manusia. Manusia bereproduksi, ovum dan sperma melebur. Jadilah zigot, gastrulasi, lalu embrio. Embrio berkembang jadi bayi, remaja, lansia, lalu mati. Setelah mati kemana ?
Jadilah kau kumpulan protein yang tidak berguna, habis dilahap pengurai.

Masihkah kau merasa superior ?
Pathetic.

Masihkah kau merasa hidup ?
Kau bahkan tidak dapat mengendalikan tenggat waktu hidupmu. Antibiotik itu bukan penjamin hidupmu, dari sisi kesehatan mungkin hidupmu lebih lama. Namun apakah kau bisa mengendalikan peristiwa ?
Kapanpun saja kau bisa mati tiba-tiba.

Atom-atom kecil ini tidak pernah mati seperti dalam istilahmu. Mereka yang sudah ada sejak semula hanya merubah formasi. Seakan-akan ada sebuah kode untuk mengekspresikan momentum dalam dunia pada kurun waktu tersebut. Sepersekian detik kemudian, formasi tersebut berubah. Terus seperti itu.
Bukankah ini lebih cocok disebut kehidupan ?
Atau lebih tepat disebut abadi, karena istilah kehidupan dibuat manusia untuk melengkapi kematian.

Pada dasarnya merekalah (atom) yang hidup. Mereka adalah Tuhan yang menggerakkan roda kehidupan. Manusia ini yang tidak tahu diri. Hanya karena mereka berhasil meraih akal budi dalam peristiwa evolusi, jadilah hewan congkak ini. Skenario atom yang sudah disusun dengan benar-benar sempurna terkorupsi oleh otak manusia. Mereka mengeruk bumi demi kebaikkan mereka.

Bahkan istilah baik atau jahat diciptakan manusia demi kelangsungan umat mereka. Peraturan lisan itu memang bertujuan untuk membantu hakekat atom pada awalnya, tapi apakah berjalan sesuai rencana ?

Manusia berbicara kepadaku tentang kebenaran.
Apa itu arti kebenaran ?
Kebenaran hanyalah merujuk pada pemikiran koheren masyarakat yang membentuk dogma. Jika saya menusuk seorang manusia hingga mati, apakah dapat diartikan bahwa saya yang membunuhnya ?
Menurut manusia, saya yang membunuhnya. Karena saya menyetujui pemikiran tersebut pula, sayapun memvonis diri saya sendiri sebagai pembunuh. Berarti kebenaran merujuk pada dasar pemikiran manusia masing-masing pribadi. Kadang ada manusia yang tumbuh dengan nilai kebenaran yang sejalan dengan skenario atom, lebih banyak yang bergerak dengan kemauannya sendiri. Jadilah bumi kita ini.

Bicaralah kepadaku. Jawab aku !
Bukan otakmu yang kutanyakan, tapi atom-atom pembentuk dirimu.

Biarlah semua berakhir menjadi kosong. Hampa, tak berisi. Karena sudah terlalu picik hewan bernama manusia ini. Lalu saat itu, kita mulai dari awal lagi.
Kembali murni dan asli.

1 October 2013
@albert_karwur

Monday, September 2, 2013

Matahari, Bulan, dan Jutaan Bintang di atas sana

Dia itu matahari yang membawa fajar. Burung-burung kecil bernyanyian dan embun dingin menambah sejuknya pagi. Lebah melompat ke tiap bunga mencari madunya lalu menghisap sukmanya. Dia, matahari yang memeluk dunia, dan memberi hangat cinta. Terasa sangat hidup tentunya. Tapi tak selamanya terasa nikmat, kadang sinar mentari menyengat pandang. Sehingga seluruh dunia terpukau oleh kesilauan sinarnya. Jelas rasanya sakit, seolah dikhianati pagi. Sehebat-hebatnya matahari mendispersikan pandangan, itu hanya cara dia agar kita tetap di rute yang benar. Agar tidak jauh kita tersesat dalam gelap hutan, matahari bersinar terang, seterang yang dia bisa supaya terlihat silau sinarnya. Memang perih, namun matahari tidak pernah menginginkan hal buruk bagi bumi. Terkadang Ia memang kejam, kadang keras kepala dan egois, namun tidak pernah membimbing kita ke jurang kekelaman.


Beda lagi pasanganya, sang bulan. Bulan tidak seperti matahari yang membawa kehidupan dan pergi saat sore hari, bulan pendiam dan terlihat jauh dari bumi karena ukurannya yang lebih kecil. Sejenak saat malam kelam datang, bulan baru nampak. Sebenarnya Ia tidak pernah pergi maupun datang, hanya kilau matahari yang menutupi pancaran terangnya yang selalu berada di atas sana. Tersadar malam terasa menekan, seolah teror melanda dunia. Manusia, bumi, dan seluruh isinya seakan telanjang, tanpa perlawanan; seperti perawan yang telah siap diperkosa. Mereka yang sembunyi di rumah akan berdoa meminta pertolongan, mereka yang tersadar akan berlari keluar dan bergembira di gelap malam. Anak-anak, remaja, dan orangtua akan bersorak merayakan akhir harinya di malam. Kunang-kunang akan menjelma menjadi bidadari menerangi jagat. Mereka semua tidak akan takut, walaupun serasa telanjang. Mereka tahu, bulan yang berada diatas sana terus menjaga bumi. Walaupun tak sehangat mentari, Bulan selalu menilik seluruh kehidupan di bumi. Bersama jutaan bintang yang menemaninya di atas sana, dia akan melihatmu. Sampai senja datang lagi, Ia akan menjaga tidurmu dari segala hal yang kau takutkan. 

Tanpa ada matahari yang membawa pagi, dan bulan yang menjaga saat malam; kehidupan bumi tidak akan berjalan benar. Mereka pasangan yang ada untuk memberi nafas pada bumi. Entah bagimu matahari itu sosok ibu, dan bulan adalah sosok ayah; ataupun matahari-bulan ibarat Tuhan dalam agamamu, mereka selalu menjagamu. Selalu akan ada mereka yang mencintaimu, memikirkanmu, dan menilikmu dari kejauhan. Karena kau istimewa berlarilah bebas, biarlah dunia tau bahwa matahari, bulan, dan jutaan bintang di atas sana menjagamu.

Friday, August 30, 2013

Filosofi Eksistensi Agama

Tulisan di bawah ini berisiikan pemikiran filosofis yang entah benar atau tidak, hanya merujuk pada logika pembaca semata serta beberapa fakta. Penulis memnita maaf tidak bisa menulis pustaka karena terlalu sumber berita berasal dari televisi serta berbagai alamat website yang sudah lama dibuka, jadi kebenaran berita tergantung dari kebijakan pembaca. Bukan untuk menyesatkan agama maupun pola pikir, hanya pemikiran idealis yang wajar berkembang pada abad ke-21. Sekali lagi, diharapkan kebijakan pembaca.

Apakah anda beragama ? Pernah saya berdiskusi dengan seorang dosen pada matakuliah agama mengenai bagaimana terciptanya agama. Dalam pembahasan tersebut, dikatakan bahwa agama tercipta dari animisme dan dinamisme. Pada jaman purbakala, manusia menganggap ada sebuah sosok superior yang mengendalikan tatanan struktur dalam dunia. Sebaliknya, manusia mengkastakan dirinya sebagai mahkluk yang inferior dihadapan sosok tersebut. Sebagai contoh, jaman dahulu manusia tidak mengerti bagaimana petir bisa ada dan mengeluarkan guntur; bagaimana bisa hujan turun; dan sebagainya. Disini peran Tuhan muncul sebagai jawaban. Jadi, disimpulkan bahwa agama berasal dari pemikiran tersebut. Perihal kemudian terdapat berbagai agama di dunia merupakan distorsi ruang dan waktu pada belahan dunia yang akhirnya berkembang menjadi kepercayaan setempat.

Bisa dikatakan, agama adalah jawaban yang semestinya tidak dipertanyakan. Namun disini, kita akan mencoba melawan aturan ini.

Benarkah sosok superior itu berasal dari pemikiran manusia semata ? kurasa tidak. Terlalu banyak kejanggalan yang terdapat pada sejarah peradaban manusia yang katanya menciptakan agama. Dipercaya, manusia jaman batu menggambar di gua untuk menceritakan kisah yang telah dialaminya dalam hidup. Dapat ditemukan gambar manusia sedang berburu, dan beberapa hal wajar yang dapat dipikir secara nalar. Namun, apakah ada penjelasan mengenai gambar manusia setengah hewan setengah manusia pada gua-gua tersebut. Saya rasa tidak, dan lebih tidak mungkin lagi cerita tentang manusia setengah manusia setengah hewan dibuat-buat. Bahkan nyatanya beberapa diantaranya termasuk dalam budaya suatu tempat. Misalnya Minotour yang merupakan makhluk setengah manusia dan setengah banteng/kuda. Minotour hidup dengan memakan manusia sebagai korban persembahan. Katakanlah cerita ini merupakan legenda semata. Namun rasanya mustahil pemikiran satu individu bisa mempengaruhi seluruh masyarakat (society) tentang keberadaan makhluk ini, serta tradisinya. Lebih mustahil lagi, jika masyarakat secara tiba-tiba dan serentak meyakini hal ini, apalagi sampai menjadi bagian dari budaya.

Secara logis, manusia purbakala ingin mengirim pesan bahwa makhluk-makhluk ini pernah ada melalui gambar-gambar di dinding gua. Sebuah contoh yang lebih janggal adalah bentuk-bentuk dewa pada agama Buddha dan Hindhu. Dalam agama-agama ini, dipaparkan terdapat berbagai dewa yang mengendalikan keberlangsungan kehidupan dunia. Dapat dilihat gambaran dewa yang diwakilkan dalam bentuk stupa di dalam candi-candi. Kalau anda berkunjung ke salah satu candi besar (seperti candi borobudur atau candi prambanan), umumnya terdapat stupa dewa serta jalan cerita kehidupan di dinding candi tersebut. Kini pertanyaannya adalah bagaimana pahatan, bentuk dewa, serta jalan cerita dibuat sedetail dan secanggih itu ? apakah hanya dengan kekuatan pikiran yang terdistorsi ? Harus ada penjelasan logis tentang asal mula hal-hal seperti ini. Seperti pada salah satu candi di Asia Tengah yang pada waktu titik balik matahari akan masuk sinar matahari dan sinarnya tepat mengenai stupa yang ada di dalam candi tersebut. Saat dikaitkan dengan teknologi jaman tersebut rasanya mustahil kalau hanya dengan pemikiran manusia membuat candi sedemikian rupa.

Hal yang serupa dapat dijumpai pada peradaban Mesir kuno. Mesir memang terkenal dengan peradaban mesir kunonya, dan yang menjadi fakta menarik adalah letak piramida yang merupakan makam raja. Cahaya matahari yang terpantul mengenai tiap permukaan piramida dengan skala intensitas cahaya yang cukup dan akan terpantul kedalam dan berpusat pada titik pusat piramida, yaitu makam raja tersebut. Ini terdengar sangat mustahil, karena kita tahu pada jaman tersebut Socrates maupun Aristoteles belum lahir; apalagi ilmu geometri yang sangat dibutuhkan dalam pembuatan piramida. Ka'bah di Mekkah milik kaum islam juga memiliki kasus geometris. Letak Ka'bah merupakan letak dimana beberapa pusat matahari, bulan, maupun garis bumi bertepatan di kotak hitam tersebut. Bagaimana orang jaman dahulu bisa mengenai letak geometris yang begitu rumit ? Mengapa Ka'bah harus diposisikan dalam tempat tersebut ?

Kasus ini hampir sama dengan gereja tua di Ethiopia. Raja ethiopia pada jaman tersebut diceritakan diberi wahyu oleh Tuhan untuk membangun gereja di Ethiopia untuk menyimpan tabut perjanjian Allah. Menariknya, gereja ini didirikan kebawah; alias gereja di bawah tanah. Ajaibnya, gereja tersebut bukan dibuat; namun dikeruk dari batu yang berasal dari tanah tersebut. Menurut para ahli arkeolog, hal ini tidak mungkin dilakukan oleh manusia pada jaman tersebut. Bahkan pada jaman sekarang, membuat gereja seperti itu paling tidak membutuhkan peralatan yang benar-benar canggih serta arsitek gereja veteran. Konon, pembangungan gereja itu terdapat 2 sesi pekerja. Manusia mengerjakan pembangunan pada siang hari, dan malaikat mengerjakan pada malam hari saat manusia tertidur. Secara logis, sosok yang disebut malaikat lebih menyerupai sosok extra-terrestrial yang memiliki teknologi canggih untuk menyulap pembuatan gereja tersebut.


Mungkin dulu memang pernah ada makhluk extra-terrestrial yang sangat membantu peradaban manusia. Contoh yang lebih jelas tentang eksistensi makhluk ini adalah stonehendge yang merupakan tumpukan batu gigantic di Wiltshire, Inggris. Tumpukan batu ini dipercaya berumur 2000 tahun sebelum masehi dan beratnya berton-ton. Bagaimana jawaban logis dari berpindahnya batu ini pada padang rumput tersebut ? Benarkah kekuatan pikiran yang menciptakan susunan teratur batu yang beratnya berton-ton berada di tengah padang rumput ? Saya pikir, jawaban religius tidak akan sampai untuk menjawab pertanyaan ini. Apakah benar selama ini hidup kita ternyata dimanipulasi oleh sosok tidak jelas ? Apakah beragama masih menjadi bagian kebutuhan primer kita ? Apakah benar agama yang kita pegang teguh benar berasal dari pemikiran superior-inferior manusia ?

Terlepas dari permasalahan agama yang menjadi pemersatu dan pembeda dalam kehidupan, agama masih berperan penting pada jawaban kematian. Secara biologis, setelah manusia mati akan menjadi kumpulan protein tidak berguna yang cepat atau lambat akan menjadi makanan pengurai. Namun, agama tetap akan menjadi andalan untuk menjawab kemana kita (jiwa) akan pergi setelah mati. Disisi lain, paling tidak dengan iming-iming surga dapat membuat manusia berperilaku yang benar dan baik. Walau tidak ada jaminan riil, manusia hanya bisa percaya. Walaupun pasti kelak manusia akan mengetahui rahasia anti-aging agar hidup sangat lama (selamanya bisa saja), kita hanya bisa membongkar teori-teori masa lalu yang telah tertanam dalam benak kita dengan logika dunia filosofis.

31 August 2013
@albert_karwur

Friday, August 2, 2013

Selamat Jalan, Kawan !



"Karena kita bebas dan muda. Kita akan berlari sejauh mungkin, sampai matahari tak bisa menggapai bayangan kita lagi. Mereka akan tahu, dan kaupun begitu. Arti persahabatan"

Sekotak impian sudah kutitipkan padamu. Tanda perpisahan setelah sekian lama bersama. Kau ternganga seolah tak percaya akan berpisah, akupun begitu. Dan kau, ya kau yang membaca ini akan tertawa. Begitu terbahaknya mengingat masa kecil kita. Masa keemesan dimana tidak ada politik maupun cinta. Masa kecil yang lugu dan polos. Tidak ada yang bisa membatasi aksi kebrutalan kita, cerita kenakalan dan perkelahian kita. Kecuali orang tua kita, tentunya. Cerita berharga yang hanya akan ada sekali, takkan bisa dibeli.

Jam 07.00 tepat kita sudah di sekolah, berlarian tak tau kemana. Akhirnya kita sampai pada sebuah pohon beringin yang cukup besar dan tua. Seolah ia mau menunjukkan betapa mudanya kita didepannya. Kaupun mulai menggapai gelantungan yang terurai jelas dari langit-langit beringin. Dengan ancang-ancangnya kaupun berayun dan bergelantungan. Dasar monyet lincah, pikirku. Akupun tak mau kalah, dan kugapai sehelai gelantungan lain dan berayun bersamamu. Sudah terbawa kemana, aku kembali tersadar dengan bunyi benda yang jatuh yang cukup keras. Dari bunyinya saja terdengar sakit. Aku melihat ke kanan, dan terlihat mukamu yang bodoh terjatuh dengan posisi terbaring lemas. Aku melihat matamu, kaupun melihatku. Kita terdiam, saling berpandangan. Tiba-tiba aku tertawa tak tahan melihat muka dongkolmu. Kaupun tertawa melihatku tertawa. Kenangan suatu siang di pohon beringin tua.

Lebih lucu lagi kenangan depan SMP Stella. Sepulang sekolah, kita pulang jalan berdua. Jaman itu masih jaman susah, tidak ada motor dan nasib kepulangan kita hanya ditentukan pemberhentian angkot di depan pegadaian. Harganya masih murah, Rp 1000 saja. Saat itu, kita sedang bosan. Sebosan-bosannya dan kita mencoba sesuatu yang berbeda. Awalnya kau bercerita tentang video stop-motion yang ada di youtube.com. Video itu menjadi menarik karena dikisahkan orang berjalan mundur. Dengan iseng, kita meniru adegan video itu dengan berjalan mundur dari SMP Stella sampai perempatan Monginsidi. Kebodohan kita terhenti dengan tetes hujan yang mulai berjatuhan dari langit. Kita pun berlari menyusuri jalan kearah cosmo. Berlari ditengah hujan. Derasnya hujan turun tidak akan mengalahkan kita, sebaliknya terasa seperti ekstasi yang membangkitkan sifat kekanak-kanakan kita. Seolah kita menunjukkan pada langit kalau kita lebih hebat darinya. Biar yang diatas melihat betapa bebasnya kita tertawa menikmati air hujan.

Malam ini cukup dingin dan tidak bersahabat. Malam yang mengantarkan kepergianmu ke pulau yang cukup jauh dari Jawa. Maaf tidak bisa memberi suatu barang kenangan. Mengingat itu, lucu rasanya. Sudah terlalu banyak benda persahabatan kita yang hilang. Mengingat betapa teledornya aku dan banyaknya cincin yang kau pakai. Jadi biar barang kenangan yang mengantarmu pergi adalah tulisan ini. Banci sekali rasanya membuat tulisan untuk laki-laki sepertimu. Tapi setelah kupikir-pikir, memang lelaki melankolis sepertimu cocok dengan hadiah seperti ini. Tulisan ini akan abadi di internet, jadi sewaktu-waktu kau bisa membukanya jika sedang merindukan sahabat-sahabatmu di Salatiga. Kelak kita akan bertemu kembali, suatu hari nanti. Biar sampai pada hari itu, kita meniti karir kita masing-masing. Tetaplah menjadi bodoh seperti itu, kudoakan yang terbaik untukmu. Selamat jalan, kawan !

"Kita sudah besar dan dewasa. Malam sudah mulai menyerang, aku harus pulang. Kau juga harus terbang, jadi pergilah. Kepakanlah sayapmu menuju negeri di balik awan. Ini bukan perpisahan, ini hanya jeda sampai senja menyambut. Kelak saat matahari sudah kembali turun, kita akan bebas berlari kembali. Sampai menua akan kutemani, dan kita akan tertawa terbahak menantang dunia"

-Dedicated for one of my best friend, selamat jalan, kawan !-

2 August 2013
@albert_karwur
 

Friday, July 19, 2013

Kebun Sayur


Bagaimana rasa kematian ? darah pekat mengucur derasnya dari pergelangan nadi, nikmat bukan ? Kau hanya seonggok beban yang membawaku kemari. Entah sejak kapan aku jadi begini. Kita dulu pernah saling bertanya : "Apa yang kau inginkan saat kita menikah ?". Kita berandai sampai lupa matahari telah tenggelam mengingatkan kita untuk pulang. Dulu, dulu sekali, kau pernah memintaku satu hal. Sederhana saja, untuk menjaga hati ini. Aku bukan seorang borjuis yang bisa membawamu kemanapun kau mau, dengan moge-moge yang kau dambakan. Aku bukan seorang dermawan yang limpah ruah hartanya. Kekayaanku hanya vespa butut dan hatiku ini. Tapi tak kau biarkan hati ini murni, semua kotor sudah. Kebun impian kita telah rusak, tomat tidak lagi segar, dan mangga tidak akan pernah ranum lagi. Tidak akan ada benih labu yang bertebaran. Ataupun bunga anggrek kesukaanmu bermekaran. Aku sudah muak dengan kebun kita, penuh dengan racun.

Terbuai dengan dunia dan tenggelam dalam lautan mimpi. Kau terus bawaku dalam bayang palsu. Rusak semua. Hilang, tanpa bekas. Aku akan jadi bajingan dan kaupun begitu, kita tidak akan pernah memperbaiki satu sama lain. Kau bukan gerigi yang kucari selama ini, akupun tidak akan melengkapimu. Kita hanya diijinkan yang kuasa bercermin. Kau dan aku sama, membatu. Kita tidak akan bisa begini, dan aku tidak akan tahan melihatmu membatu. Jadi kuijinkan kau keluar dari taman indah ini. Bukan sebuah ijin, ini sebuah pengusiran karena aku tau tidak akan ramah lagi kenangan di kebun sayur kita. Selangkah kau keluar dan akan kubakar kebun ini. Agar kau selamat dan dapat mencari ladang baru yang sekiranya dapat tumbuh sayur dan buah yang kau cari, aku bukan apel itu. Pergilah, sejauh mungkin dari pandanganku. Agar tak ada lagi isak tangis itu, dan biar terbakar buku kita dengan kebun. Kini rasakanlah dingin dunia tanpa hangatnya vespa bututku dan hati kotorku. Biar kubersihkan hati bernoda ini agar kelak dapat kutemui wanita dengan gerigi kepunyaanku. Biar kucari kebebasanku dan menjadi tenang dengan para penjual lain di pasar. Nantinya akan kudapati pembeli yang pas harganya buatku, dan akan kubuat kebun baru. Yang akan jauh lebih ranum buahnya. Hingga kematian akhirnya datang dan takkan ada lagi penyesalan.

-dedicated for one of my bestfriend-

19 July 2013
@albert_karwur

Thursday, June 13, 2013

Running Life

Hello everyone, it seems like months not to post a single thing here. So, here’s the thing. Recently life has changed a lot. It’s now the short term semester in university, and I took 12 sks on it. I took all the obligatory subjects on this semester, it makes me dizzy everyday. Many assignments and presentation should be done. But, at least on the bright side I got much many friends from other faculties.

Talking about my faculty, it’s been closer to the election of the next dean of my faculty. I’m kind of disappointed with several of my friends, since they always rely on me and don’t help on solving problem inside the faculty. Yeah, I’m fed up with those people. All I want to do is finish my main responsibility at least on the generation attribute and also the gathering night. Moreover my parents push me to go into the university level organization rather than the faculty, and after several considerations I took that decision. On this June after the election of the leader executive student council of university level, I plan to assign as a member. I think I’m trying to assign on the international department since I have good english and it would support my connections to continue my study in out of Indonesia.

Talking about the busy life, I’ve been chasing on a english debate competition held in Malang by the end of June. It’s called JOVED, which means Java Overland Varsities English Debate Competition. Basically it’s a debate competition among universities in Java Island. It would be tough and hard, and I’m trying to put my best effort on it. 13 days again and I would go to Universitas Brawijaya to deal with it. Everyone has high expectations and I don’t want to make them disappointed, so at least I’ll try to break into semifinals. Believe me, it’s really hard to deal with this.

Last but not least, tomorrow Tora and I would go to 5 month of our relationship. I didn’t notice it would feel this fast, but when I track back and see the history many things had happen. Many problems we had solved, it makes me happy to still have her by my side. Many things inside my life had her smell. Just when she tries to make me her herbal drink recipe to make me healthier, or when She brought me her meal and we ate together. Just as tomorrow I’m heading to Jakarta due my aunt has her wedding, I had a short moment with Tora. Until now, we never had a planned hangout on evening. So I bought some “gorengan” and she bought “serabi” and we ate together. I will miss those moments. Talking about relationship, yesterday we had a new couple. My friend after 7 months of chasing a girl finally became her boyfriend. It makes me happy, as well as Tora. Happy to see him not alone anymore, sometimes I can’t stand seeing him bullied all the time because of being alone. Well congrats, hok !


I think that’s all for today, it was so exhausting on the debate practice today. Thanks for the lesson, mas Ayi, hope you have a safety journey back to Tangerang tomorrow. Okay pals, I’ts 9 PM and I need to work on my presentation tomorrow and packing my stuffs to go to Jakarta tomorrow at 1 PM. Thanks for reading, aloha everyone.

@albert_karwur
13 June 2013

Thursday, April 11, 2013

Are You With The Right Partner ?


During a seminar, a woman asked," How do I know if I am with the right person?"

The author then noticed that there was a large man sitting next to her so he said, "It depends. Is that your partner?" In all seriousness, she answered "How do you know?" Let me answer this question because the chances are good that it's weighing on your mind
replied the author.

Here's the answer.

Every relationship has a cycle… In the beginning; you
fall in love with your partner. You anticipate their calls,
want their touch, and like their idiosyncrasies. Falling in love wasn't hard. In fact, it was a completely natural and spontaneous experience. You didn't have to DO anything. That's why it's called "falling" in love.

People in love sometimes say, "I was swept of my feet."Picture the expression. It implies that you were just standing there; doing nothing, and then something happened TO YOU.

Falling in love is a passive and spontaneous experience. But after a few months or years of being together, the euphoria of love fades. It's a natural cycle of EVERY relationship.

Slowly but surely, phone calls become a bother (if they come at all), touch is not always welcome (when it happens), and your spouse's idiosyncrasies, instead of being cute, drive you nuts. The symptoms of this stage vary with every relationship; you will notice a dramatic difference between the initial stage when you were in love and a much duller or even angry subsequent stage.

At this point, you and/or your partner might start asking, "Am I with the right person?" And as you reflect on the euphoria of the love you once had, you
may begin to desire that experience with someone
else. This is when relationships breakdown.

The key to succeeding in a relationship is not finding the right person; it's learning to love the person you found.

People blame their partners for their unhappiness and look outside for fulfillment. Extramarital fulfillment comes in all shapes and sizes.

Infidelity is the most common. But sometimes people turn to work, a hobby, friendship, excessive TV, or abusive substances. But the answer to this dilemma does NOT lie outside your relationship. It lies within it.

I'm not saying that you couldn't fall in love with someone else. You could. And TEMPORARILY you'd feel better. But you'd be in the same situation a few years later.

Because (listen carefully to this):

The key to succeeding in a Relationship is not finding the right person; it's learning to love the Person you found.

SUSTAINING love is not a passive or spontaneous experience. You have to work on it day in and day out. It takes time, effort, and energy. And most importantly, it demands WISDOM. You have to know
WHAT TO DO to make it work. Make no mistake about it.

Love is NOT a mystery. There are specific things you can do (with or without your partner), Just as there are physical laws Of the universe (such as gravity), there are also laws for relationships. If you know how to apply these laws, the results are predictable.

Love is therefore a "decision". Not just a feeling.

Remember this always: God determines who walks into your life. It is up to you to decide who you let walk away, who you let stay, and who you refuse to let GO! ♥