Sunday, July 20, 2014

Mengintip


Bukan tanpa alasan aku suka mengintip. Karena kamu cantik? bukan. Manis? hahaha. Kalaupun iya, mestinya aku sudah neg dengan manisnya wajahmu karena saking manisnya. Jangan nyengir dulu, aku nggak nggombal kok. Sebenarnya menurut hakekat, melihatmu itu gratis. Toh, foto-fotomu juga banyak terpampang bergantian di walpaper laptopku. Jadi tidak usah repot mencari celahpun, memandangmu itu bebas; tanpa dosa. Namun, seindah-indahnya tayangan empat mata denganmu, tetap menjadi istimewa tiap kali aku mengintipmu. Seperti pada waktu kamu sedang tertidur pulas. Tapi lebih indah lagi saat kamu sedang berdoa. Kamu harus lihat wajahmu kala itu; istimewa. Nggak munafik.

Jangan nyengir lagi, aku nggak nggombal kok.
Ini seriusan.
hahaha

@albert_karwur
20 Juli 2014

Friday, May 16, 2014

Macet


"Aku nggak suka macet be, nggak suka banget. Makannya kuliah di Salatiga"

Jalan menuju rumah terasa panjang. Sebenarnya tidak jauh, hanya karena padat merayap kendaraan mengisi jalan; terhenti pula gerak perjalanan. Penuh dengan kebisingan dan asap polutan; wajar melihat kerutan-kerutan di dahi para pengemudi truk; tanda lelah, penuh penat. Sama seperti mereka, akupun juga begitu. Ingin rasanya menginjak pedal gas sekuat mungkin, agar cepat sampai di tujuan. Memang perjalanan kali ini terasa panjang, tapi apa daya usaha melawan keramaian. Hanya sosokmu yang terlihat kecil manis diujung jalan, membuatku semakin ingin berlari kencang. Aku hanya bisa mencari celah, sambil terseok-seok melintasi kerumunan; menahan keluhan yang lompat dari lidah.

Matahari mulai tenggelam, malam mulai menyerang;
dan Aku belum tiba di ujung jalan.

Tapi tidak usah khawatir,
Aku tidak tersesat kok.

Maaf bakal menunggu lama, macet di jalan.
Sama sepertimu,
Aku juga nggak suka macet kok.

17 Mei 2014
@albert_karwur

Saturday, May 10, 2014

I'm in love, and always will be

The more time I spend with you, the deeper I put myself into the joyous and complexity of love. I, surprisingly, find myself in an absolute bliss without having to pretend to be someone I’m not. In what other word can I describe this but love?

You came to my life all of a sudden, out of nowhere. Since then, I simply can't take my eyes off you. You came at the exact moment when I detest love as a mutual relationship. When I buried myself in a deep prejudice that women, indeed, does not love.

But you did come. Shed my tears away, and replace it with piles of laugh and joy. You'd showed me, and you still are, how an individual should be embraced just the way they are. That no matter how bad they look like, we shall find the very best of them in a most surprising way.

You taught me how to tell you everything I used to hide, to make me realized how I be loved by so many people, how I shouldn't think the other way around. You came to me, healing the wound I had for so long, that I get used to the bandage rather than to wound itself.

But then again, there's one question left yet hasn't been answered. What are you to me? A painting or furniture?

This particular question shall be my basic consideration on how far should we carry n this relationship. It’s a question even the adults often fail to identify. Thou, we have plenty of time to figure it out. For now, I just want to be able to touch the warmth of your skin, to smell the scent of your body, to look deeply at your eyes and to find my own reflection.

I'm in love, and always will be.

Tuesday, April 29, 2014

Membagi Kebenaran

Kita (baca: manusia), memang selalu punya pemikirian idealis sendiri-sendiri. Entah baik atau jahat, tidak ada yang bisa menyimpulkan itu. Karena pada dasarnya, hal-hal seperti itu yang akan membentuk nilai kebenaran; dan membentukmu secara utuh.

Apa yang saya rasa benar, tidak selalu terbaca benar di benakmu. Yang Anda bisa lakukan adalah melihat, bukan memahami sampai sedalam apa yang saya rasakan. Namun, saya sungguh sangat berterimakasih atas afeksi dan empatinya. Setidaknya, ada sesuatu untuk dibagi; sehinngga tidak seberat sebelumnya.

terimakasih.

@albert_karwur
30 April 2014

Wednesday, April 9, 2014

Sudahkah kamu tersenyum hari ini?


Sudahkah kamu tersenyum hari ini? Pagi ini sangat cerah. Seiring fajar melepas rindunya, para manusia terbangun meyambutnya. Kian lama kita semakin terhanyut dalam nuansa hangat. Mendengar kicauan burung, melihat langit biru muda yang terbentang luas, dan tentunya, membaca pesan singkat darimu. Siapa yang tidak tersenyum?

Sudahlah, tak usah ditutupi. Aku tahu kamu pasti juga sedang tersenyum.


Cukup sebelas digit huruf untuk menyadarkanku dari kantuk. “Selamat Pagi”, lengkap dengan emoticon senyum yang membuatku terbayang indahnya senyummu, komplit dengan segala euforia ini.


Semakin cepat waktu terlahap, tidak terasa mentari dan segala kawanannya menghilang. Datanglah malam. Kita lelah, semua lelah, tertarik menuju kasur; melepas letih.



Genaplah satu hari selesai. Terasa pendek dan cepat, tapi tak apalah.
Toh aku sudah tidak sabar untuk tidur; agar melihatmu tersenyum kembali besok.

@albert_karwur
10 April 2014

Monday, February 24, 2014

Dunia yang Gelap

Dunia ini sebetulnya gelap. Sangat gelap. Gambaran yang terlintas semasa hidupmu hanyalah imajinasi; rekaan pikiranmu sendiri. Itu hanyalah dogma yang tumbuh dalam otak. Dan semua indra yang kau dapati, bukanlah indra kehidupan. Meraba, mencium, membaui, melihat, mendengar; anjing juga dapat melakukan itu semua kok. Mereka yang kau lihat hanyalah topeng, suara yang kamu dengar cuma angin yang ingin mengusikmu; menjatuhkanmu. Wajar saja karena manusia memang sehendaknya selalu memiliki keegoisan untuk membentuk dunia idealnya sendiri; yang kita sering sebut pendapat. Semua 'indra' yang lain hanyalah penyedap rasa; yang membuat dunia semakin realis.

Indra sejati hanya milik mereka yang menyala. Mereka yang membakar dirinya sendiri; ditengah gelap malam. Seolah lilin-lilin yang menghiasi jagat, mereka akan bersinar. Tentunya, mereka akan meleleh lebih cepat, daripada mereka yang berlindung dalam fiksi; demi menjaga api yang kian redup. Bukan persoalan siapa yang lebih lama bertahan dengan apinya, namun seberapa terang api itu terpancar. Kehadiran mereka ini yang membuat dunia berimbang, setidaknya ada penerangan kecil di setiap sudutnya.

Paling tidak lebih baik dunia yang gelap dengan lilin-lilin yang sederhana, penerangan yang secukupnya. Daripada dunia yang terang sehingga terlihat semua kebusukkan manusia.

Mungkin lebih baik begini. Entahlah,

@albert_karwur
25 Februari 2014

Friday, January 31, 2014

Foto

Foto itu menggambarkan seribu kata. Tidak perlu caption atau penjelasan lebih, itu sudah cukup. Bukannya mau subjektif, hanya saja senyummu itu tidak menipu. Tanpa kau jelaskanpun, aku sudah tau kamu cukup bahagia. Tapi kamu itu, memang tidak adil. Kamu memilih tersenyum, mencuri hati semua orang. Kamu memang cantik. Siapa yang tidak terpukau melihatmu ? melihat duniamu ? Kurasa itu sebabnya juga; banyak yang mejagamu, mengkhawatirkanmu. Bagi beliau yang berlaku demikian, sungguh terimakasih banyak. Terlalu berharga senyum itu, aku sungguh takut ketulusannya rusak. Senang, tapi juga sedih; karena tidak bisa menjadi beliau. Beliau yang mengisi harimu, dan menyelimuti hatimu. Bukannya tidak mampu, tapi belum bisa menjadi Beliau. Aku hanya berdoa yang terbaik untuk esok hari. Terus berharap, kelak kapan kesempatanku berfoto denganmu.

Kelak, suatu saat nanti.
Tunggulah.

@albert_karwur
1 February 2014