Wednesday, April 9, 2014

Sudahkah kamu tersenyum hari ini?


Sudahkah kamu tersenyum hari ini? Pagi ini sangat cerah. Seiring fajar melepas rindunya, para manusia terbangun meyambutnya. Kian lama kita semakin terhanyut dalam nuansa hangat. Mendengar kicauan burung, melihat langit biru muda yang terbentang luas, dan tentunya, membaca pesan singkat darimu. Siapa yang tidak tersenyum?

Sudahlah, tak usah ditutupi. Aku tahu kamu pasti juga sedang tersenyum.


Cukup sebelas digit huruf untuk menyadarkanku dari kantuk. “Selamat Pagi”, lengkap dengan emoticon senyum yang membuatku terbayang indahnya senyummu, komplit dengan segala euforia ini.


Semakin cepat waktu terlahap, tidak terasa mentari dan segala kawanannya menghilang. Datanglah malam. Kita lelah, semua lelah, tertarik menuju kasur; melepas letih.



Genaplah satu hari selesai. Terasa pendek dan cepat, tapi tak apalah.
Toh aku sudah tidak sabar untuk tidur; agar melihatmu tersenyum kembali besok.

@albert_karwur
10 April 2014

Monday, February 24, 2014

Dunia yang Gelap

Dunia ini sebetulnya gelap. Sangat gelap. Gambaran yang terlintas semasa hidupmu hanyalah imajinasi; rekaan pikiranmu sendiri. Itu hanyalah dogma yang tumbuh dalam otak. Dan semua indra yang kau dapati, bukanlah indra kehidupan. Meraba, mencium, membaui, melihat, mendengar; anjing juga dapat melakukan itu semua kok. Mereka yang kau lihat hanyalah topeng, suara yang kamu dengar cuma angin yang ingin mengusikmu; menjatuhkanmu. Wajar saja karena manusia memang sehendaknya selalu memiliki keegoisan untuk membentuk dunia idealnya sendiri; yang kita sering sebut pendapat. Semua 'indra' yang lain hanyalah penyedap rasa; yang membuat dunia semakin realis.

Indra sejati hanya milik mereka yang menyala. Mereka yang membakar dirinya sendiri; ditengah gelap malam. Seolah lilin-lilin yang menghiasi jagat, mereka akan bersinar. Tentunya, mereka akan meleleh lebih cepat, daripada mereka yang berlindung dalam fiksi; demi menjaga api yang kian redup. Bukan persoalan siapa yang lebih lama bertahan dengan apinya, namun seberapa terang api itu terpancar. Kehadiran mereka ini yang membuat dunia berimbang, setidaknya ada penerangan kecil di setiap sudutnya.

Paling tidak lebih baik dunia yang gelap dengan lilin-lilin yang sederhana, penerangan yang secukupnya. Daripada dunia yang terang sehingga terlihat semua kebusukkan manusia.

Mungkin lebih baik begini. Entahlah,

@albert_karwur
25 Februari 2014

Friday, January 31, 2014

Foto

Foto itu menggambarkan seribu kata. Tidak perlu caption atau penjelasan lebih, itu sudah cukup. Bukannya mau subjektif, hanya saja senyummu itu tidak menipu. Tanpa kau jelaskanpun, aku sudah tau kamu cukup bahagia. Tapi kamu itu, memang tidak adil. Kamu memilih tersenyum, mencuri hati semua orang. Kamu memang cantik. Siapa yang tidak terpukau melihatmu ? melihat duniamu ? Kurasa itu sebabnya juga; banyak yang mejagamu, mengkhawatirkanmu. Bagi beliau yang berlaku demikian, sungguh terimakasih banyak. Terlalu berharga senyum itu, aku sungguh takut ketulusannya rusak. Senang, tapi juga sedih; karena tidak bisa menjadi beliau. Beliau yang mengisi harimu, dan menyelimuti hatimu. Bukannya tidak mampu, tapi belum bisa menjadi Beliau. Aku hanya berdoa yang terbaik untuk esok hari. Terus berharap, kelak kapan kesempatanku berfoto denganmu.

Kelak, suatu saat nanti.
Tunggulah.

@albert_karwur
1 February 2014


Monday, January 13, 2014

Parfummu


Aroma yang kau sebar, bukan yang kusukai. Baunya bukan seperti ini, lebih lembut; yang ini rasanya seperti bau pohon cemara ditengah hujan gerimis. Pilu, seolah berwarna biru. Bau ini terasa pekat di hidungku, sangat menyengat; tidak seperti raut di wajahmu. Jangan kau gambarkan tawa dengan bau ini, terasa munafik.

Darimanakah kau dapat wewangian ini? Kudengar parfum ini kau dapati dari kios di persimpangan jalan menuju tugu tua. Kuakui, parfum buatan kios tersebut banyak disukai orang, hanya saja tidak cocok denganmu. Ini terlalu pekat dengan bahan-bahan anorganik; mungkin saja sudah tercampur dari bahan-bahan yang dapat merusak kulitmu.

Lihat mukamu, palsu bukan? Sudahlah, jangan menangis. Aku sudah tau reaksimu akan begitu, klasik sekali. Aku tidak marah kok. Kenapa sedih ? Kau rindu dirimu yang lama bukan ?

Beruntungnya aku sudah siapkan resep parfummu itu, karena aku sangat suka itu. Bahan-bahannya organik, langsung dari taman desa kok. Kau hanya butuh 3 buah jahe pertemanan, 2 siung bawang semangat, dan setetes madu kekeluargaan; rebus dengan daun tawa. Jadilah parfumnya; kini, semprotkan saja sekali ke tubuhmu.

Harum kan?
Kenapa hanya menyengir?
Kau pasti senang kan?

Aku sudah tau reaksimu akan begitu, klasik sekali.




@albert_karwur
13 January 2014

Saturday, January 11, 2014

Gosip itu kata Sifat

Salah satu  tindakan yang paling saya benci di dunia ini adalah bergosip. Apalagi kalo tidak hanya membicarakan orang lain, tapi lebih merujuk kepada menjelek-jelekkan orang lain. Tidak ada gunanya, tidak ada hikmahnya. Kalanya pada jaman sekarang banyak sekali manusia dengan jenis seperti ini. Saking banyaknya, mungkin kini kata kerja tersebut dapat digolongkan dalam kata sifat. Iri hati, dendam, terluka, salah pengertian, dan masih banyak lagi alasan manusia melakukan tindakan ini. Apalagi kalau anak muda jaman sekarang yang biasa habis putus, pihak laki-laki menjelek-jelekkan mantannya; begitu pula pihak perempuan. Seringkali tindakan ini juga dijadikan propaganda politik untuk menjatuhkan seseorang. Seseorang menyebar isu yang nyentrik, dan umumnya bersifat menjatuhkan dengan tujuan agar pandangan masyarakat sekitar berubah.

Dapat dikatakan dalam peristiwa ini ada 3 pihak. Pihak pertama adalah orang yang memiliki masalah dengan orang lain (pihak kedua), sedangkan pihak kedua bergosip pada lingkungan pertemanannya (pihak ketiga). Umumnya dalam keadaan begini, pihak pertama dan kedua akan saling menjelek-jelekkan satu sama lain pada pihak ketiga. Saya kira ini cukup keliru. Sifat kekanak-kanakan untuk bergosip ria ini pasti sangat disebabkan oleh terlalu sempitnya pikiran sehingga tidak mau berpikir objektif; berpikir dalam banyak perspektif. Pasti setiap orang yang melakukan tindakannya berbuat demikian sehingga membuat orang lain tersinggung karena berpegang pada nilai kebenarannya. Ia merasa tindakannya paling benar; dan tentunya sejalan dengan ideologi yang dianutnya sehingga pada akhirnya bergosip pada pihak ketiga, dengan harapan untuk menyelesaikan masalah, ataupun kepuasan semata. Hina sekali.

Hal ini tidak akan menyelesaikan masalah, malah membuatnya tambah parah. Masalah akan melebar ke lingkungan. Sekalipun akhirnya masalah terselesaikan; tetap akan menyisakan noda dalam benak lingkungan sekitar. Masalah seperti ini dapat terselesaikan dengan bertemunya pihak pertama dan kedua secara empat mata, dan bermusyawarah untuk menemukan titik terang dari permasalahan tersebut. Saya kira, masyarakat dewasa semestinya tau akan solusi ini namun tidak pernah terbersit untuk melakukannya. Kalaupun ada, pasti merupakan kaum minoritas.

Harapan saya hanya agar dunia ini bisa menjadi tempat yang lebih nyaman tanpa kehadiran perilaku-perilaku tidak terpuji seperti itu. Toh, kalaupun digosipkan seperti itu biarlah nantinya lingkungan sekitar yang menjudge sendiri apakah orang tersebut sesuai seperti yang digosipkan atau tidak.


@albert_karwur
11 January 2014

Hujan itu Indah


11 Januari 2014, hujan turun deras sekali setelah seharian kita beraktifitas dibawah terik matahari. Sepertinya bumi juga perlu membasuh dirinya, bak manusia yang perlu mandi. Mungkin dia merasa kotor? Entahlah. Terlepas dari itu, air terus bergerak mengisi pergerakan dalam bumi. Dia jatuh ke tanah, sungai, danau, maupun laut. Kemudian pada siang hari, bulir-bulir kecil tetesan air itu terangkat ke awan-awan dengan bantuan surya, atau yang biasa dikenal dengan istilah evaporate. Mereka akan terus berada diatas sana, hingga terkumpul kawan-kawannya yang menghitamkan awan. Setelah beribu liter air terkumpul di awan, mereka jatuh kembali ke bumi yang sering disebut hujan. Seringkali atraksi hujan ini dihiasai pertunjukkan dari petir yang menghiasi langit. Guntur bersahut-sahutan untuk melengkapi panggung konser langit; dan semua basah. Akan sangat beruntung jika kaudapati matahari melengkapi pertunjukkan ini, dapat terlihat busur langit dengan tujuh warna yang bermatamorfosis dari dispersi cahaya akan butiran hujan.

Indah bukan? Siapa bilang hujan tidak indah, hanya mereka yang belum pernah bermain dalam hujan yang akan mengeluh. Memang hujan sering digambarkan sebagai peristiwa yang menyedihkan, sering terlihat dalam adegan galau film romantis. Memang hujan mengingatkan kita berbagai peristiwa yang telah berlalu. Rasanya indah saja, dapat mengenang kembali berbagai perisitiwa saat memandangi hujan. Seperti sebuah mesin waktu, dan kemudian kita berandai; “seandainya saja”.


Malam ini kunikmati hujan yang turun dengan memutar lagu, sambil berandai-andai pada masa lalu. Rasanya malas kembali ke realita.

@albert_karwur
11 January 2014

Friday, December 13, 2013

Kisah Gadis Cengeng Penghuni Pulau Terpencil

Kau adalah anak kecil yang menghuni pulau terpencil ditengah laut biru. Pulau itu cukup berisik karena banyak penghuninya; para pohon, binatang lengkap dengan seekor mamoth. Setiap paginya, kau membangunkan mereka; dan malamnya menyiapkan makan untuk mereka semua. Terus begitu setiap harinya, sampai aku datang. Di suatu malam pada musim dingin yang penuh dengan hujan badai, laut mengantarkanku kepadamu. Akhirnya setelah bertahun-tahun berkelana di laut, aku si surat dalam botol mendaratkan langkah di pulaumu. Pertemuan pertama kita bukan memori yang romantis, kau hanya melihatku dari luar; sebuah botol tanpa mau membuka surat di dalam perut botol. Dengan bodohnya aku memaksamu dengan segala modusku untuk membukaku; sebuah kotak "pandora". Rupanya kau juga kaget, aku masih putih bersih, polos tanpa noda. Sejenak kau pikir aku tidak menarik, namun seiring mencairnya waktu kaupun mengambilku; si surat bodoh. Kau bawa kemanapun kau pergi, dan aku jadi paham runyamnya keadaan di pulau terpencil itu. Sampai suatu ketika kau memantapkan hati untuk mengambil pena dan menulis di tubuhku. Hangat rasanya tinta itu mendarat di tubuhku, akhirnya ada tinta yang menempel. Kau bawa aku kemanapun kau pergi, siang dan malam. Aku jadi akrab dengan para penghuni pulau, mereka semua. Dan sejak itu, aku yang jadi pelengkap tidurmu, begitupun kau. Dan aku tertidur lelap dalam sakumu, sampai musim dingin datang kembali.


Hujan yang deras sekali menghujam pulau, dan aku terjatuh dari sakumu tanpa kau sadari. Aku yang terbawa arus hujan tak berdaya, dan terseret sampai tepian pantai. "Kamu dimana ? Lagi dimana ?" teriakmu sambil resah mencariku. Tidak ada jawaban, tidak ada balasan. Karena cuaca yang buruk, para penghuni hutan yang sudah lama tidak kau sapa menjagamu untuk tidak keluar mencariku di tepian pantai, karena berbahaya pasang surutnya. Aku yang terlanjur berada dalam maut, terhanyut di perairan sekitar. Selama berhari-hari, bahkan berbulan-bulan aku hilang, tidak pulang-pulang. Sampai suatu hari aku kembali ke pulau. Kau sudah berubah, begitu pula aku. Seolah lupa, wajar saja karena tinta yang dulu kau tulis sudah luber terhanyut di laut. Hanya tersisa beberapa noda di suratku, yang melengkapi ingatanmu terhadapku. Sejenak kau coba menulis kembali, namun tetap percuma karena tubuhku yang sudah lama basah.

Aku sedih, kaupun begitu. Aku sedih melihatmu begitu, begitu gigihnya mencoba menulis kembali. Namun tidak bisa. Aku tidak tega, tak tahan lagi. Entah sampai kapan aku akan mengering di tengah musim dingin ini. Hanya di laut lepas, aku bisa kering terkena panasnya terik matahari. Lalu aku menyuruhmu untuk mengembalikanku dalam botol agar lepas di laut. Kau hanya diam, lalu menangis. Seisi pulau tidak senang melihatmu menangis, begitu pula aku. Lalu kubatalkan permintaanku, agar reda tangisanmu. Ternyata keputusanku salah, karena membuatmu menderita lebih lama tanpa bisa menulis.

Sampai suatu siang, akhirnya kau bersedia mengantarkanku pergi. Kembali ke laut lepas, yang tak jelas arahnya. Sudah terlalu banyak beban yang kau tahan tanpa bisa menulis, hingga kaupun berbuat begitu. Aku paham, dan mungkin ini yang terbaik untuk terjadi. Kau menggulungku dengan tangan kecilmu, dan kembalikanku dalam botol. Dengan kecupan terakhir di pentup botol, kau lempar aku di laut lepas. Sejauh mungkin agar kelak cepat mengering.

Entah kemana aku akan pergi, yang jelas tujuanku adalah suatu pulau. Hanya Tuhan yang tahu kemana arus membawaku, kemanapun itu. Bisa jadi ketempatmu, atau ketempat orang lain. Atau bisa saja, saat aku berkunjung ke pulaumu; sudah ada surat lain, kita tidak tahu. Kudoakan yang terbaik untukmu, gadis cengeng. Aku tahu mungkin sekarang kau sedang menangis, tapi aku mau melihatmu tersenyum. Aku hanya berharap seiring kau baca cerita indah yang telah kita lalui, kau dapat tersenyum. Tentunya, setelah ini kau harus tetap tersenyum juga dalam hidupmu. Walaupun seringkali aku mengeluh, tapi karena aku punya kesempatan untuk bertemu denganmu, aku benar-benar berterimakasih. Sempat bertemu denganmu, menghabiskan waktu denganmu, aku sangat bahagia. Pasti aku sangat beruntung bertemu denganmu, karena itu aku mau melihatmu tersenyum.

Selamat tinggal, sekali lagi kuucapkan terimakasih dari lubuk hatiku yang paling dalam.

~lachje

@albert_karwur
14 Desember 2013